Akhir Singkat Kiprah Xabi Alonso di Bernabeu

Perjalanan Xabi Alonso bersama Real Madrid resmi berakhir usai partai final Piala Super Spanyol. Keputusan tersebut dikonfirmasi klub tidak lama setelah kekalahan dari rival abadi, Barcelona.

Namun, hasil di laga final bukan satu-satunya alasan di balik berakhirnya masa jabatan Alonso. Di balik layar, berbagai persoalan internal disebut mempercepat perpisahan tersebut. Tekanan sudah menyertai Alonso sejak beberapa waktu sebelumnya, terutama terkait dinamika ruang ganti dan ekspektasi tinggi khas Real Madrid.

Menurut laporan ESPN, setidaknya ada tiga hal utama yang paling mengecewakan Alonso selama menangani Los Blancos. Ketiganya memberi gambaran jelas betapa beratnya tantangan yang ia hadapi dalam periode yang relatif singkat.


1. Kontribusi Pemain Bintang yang Tak Maksimal

Kekecewaan terbesar Alonso datang dari performa pemain-pemain kunci yang dinilai tidak berada di level terbaik. Sepanjang tahun kalender 2025, ia merasa kontribusi sejumlah bintang tidak sebanding dengan potensi dan status mereka.

Nama seperti Jude Bellingham dan Vinicius Junior disebut tampil inkonsisten. Padahal, keduanya diharapkan menjadi motor utama permainan Madrid. Minimnya dampak mereka di laga-laga krusial membuat performa tim naik turun di berbagai kompetisi.

Situasi ini membuat Madrid terlalu bergantung pada Kylian Mbappé. Ketergantungan berlebihan pada satu pemain menjadi catatan negatif yang sangat disesalkan Alonso, karena bertentangan dengan visinya tentang tim yang seimbang dan kolektif.


2. Hubungan yang Tidak Harmonis di Ruang Ganti

Masalah kedua yang paling menguras energi Alonso adalah hubungan yang tidak sepenuhnya harmonis dengan ruang ganti. Sejak awal, isu ini sudah menjadi bayang-bayang yang sulit dihindari.

Beberapa pemain dikabarkan meragukan pendekatan Alonso, baik dari sisi komunikasi maupun keputusan taktis. Ketegangan ini tidak selalu muncul ke permukaan, tetapi cukup terasa untuk memengaruhi atmosfer internal tim.

Di klub sebesar Real Madrid, ruang ganti yang solid adalah fondasi utama kesuksesan. Alonso dikenal sebagai pelatih dengan pendekatan struktural dan disiplin tinggi, namun gaya tersebut tidak sepenuhnya diterima oleh semua pemain bintang yang terbiasa dengan kebebasan dan status besar.


3. Tekanan Ekstrem dan Waktu yang Terlalu Singkat

Hal ketiga yang paling disesalkan Alonso adalah minimnya waktu untuk membangun proyek jangka menengah. Datang dengan reputasi besar setelah sukses bersama Bayer Leverkusen, Alonso dihadapkan pada ekspektasi instan sejak hari pertama.

Setiap hasil buruk langsung memicu sorotan tajam media dan publik. Di Real Madrid, proses sering kali kalah oleh tuntutan hasil. Alonso merasa tidak diberi ruang cukup untuk menanamkan filosofi permainan dan membangun chemistry tim secara bertahap.

Tekanan ekstrem ini semakin berat ketika dibarengi hasil yang tidak konsisten dan konflik internal. Final Piala Super Spanyol pun menjadi titik akhir dari akumulasi masalah tersebut.


Kekalahan Final Hanya Puncak Gunung Es

Kekalahan dari Barcelona di final Piala Super Spanyol sejatinya hanyalah puncak dari persoalan yang sudah lama terpendam. Hasil tersebut mempercepat keputusan klub untuk mengakhiri kerja sama, meski akar masalahnya jauh lebih kompleks.

Bagi Alonso, momen itu menjadi penutup pahit dari ambisi besar yang belum sepenuhnya terwujud. Ia datang dengan harapan membawa identitas baru, namun harus pergi sebelum visinya benar-benar terimplementasi.


Pelajaran Besar dari Bernabeu

Meski berakhir singkat, pengalaman di Real Madrid memberi pelajaran besar bagi Xabi Alonso. Mengelola klub bertabur bintang dengan tekanan tanpa henti membutuhkan lebih dari sekadar taktik dan reputasi.

Tantangan terbesar justru terletak pada manajemen ego, komunikasi, dan kemampuan meredam konflik internal. Tiga hal yang mengecewakan Alonso ini menjadi cerminan betapa rumitnya kursi pelatih di Santiago Bernabeu.

Ke depan, pengalaman pahit ini bisa menjadi bekal berharga bagi Alonso dalam melanjutkan karier kepelatihannya. Sementara bagi Real Madrid, episode ini kembali menegaskan bahwa kesuksesan di klub raksasa tidak pernah datang dengan jalan mudah, bahkan bagi legenda mereka sendiri.

Baca Juga : 3 Bintang Real Madrid yang Bermasalah dengan Kepemimpinan Xabi Alonso

Cek Juga Artikel Dari Platform : dapurkuliner

By admin