Tekanan Besar di Kursi Pelatih Real Madrid

Mengisi kursi pelatih Real Madrid bukan perkara mudah. Setiap pelatih dituntut tidak hanya menghadirkan kemenangan, tetapi juga mengelola ego, status, dan ambisi para bintang. Situasi inilah yang kini dihadapi Xabi Alonso, yang dipercaya menggantikan Carlo Ancelotti.

Sebagai legenda klub dan mantan gelandang elegan Madrid, Alonso datang dengan modal pemahaman mendalam soal DNA Los Blancos. Ditambah lagi, reputasinya melonjak setelah sukses besar bersama Bayer Leverkusen, termasuk meraih gelar domestik. Namun, transisi dari pelatih sukses menjadi pemimpin ruang ganti bertabur bintang ternyata tidak berjalan mulus.


Laporan Ketegangan di Ruang Ganti

Menurut laporan media olahraga ternama, sebagian pemain inti disebut belum sepenuhnya yakin dengan pendekatan Alonso. Menariknya, isu ini muncul justru ketika performa tim di lapangan relatif positif, termasuk kemenangan prestisius atas Barcelona.

Kemenangan besar tersebut ternyata tidak sepenuhnya menenangkan suasana internal. Di balik hasil positif, muncul gesekan antara pelatih dan beberapa pemain kunci yang merasa kurang nyaman dengan keputusan teknis maupun gaya komunikasi Alonso.


Vinicius Junior dan Ledakan Emosi

Nama pertama yang disorot adalah Vinicius Junior. Winger asal Brasil itu dikabarkan menunjukkan ketidakpuasan secara terbuka saat ditarik keluar dalam laga El Clasico. Reaksi emosional Vinicius menjadi sinyal awal bahwa tidak semua pemain sepenuhnya menerima keputusan Alonso.

Bagi Vinicius, peran sentral dan kebebasan berekspresi di lapangan merupakan aspek penting dalam permainannya. Ketika perannya dirasa dibatasi atau keputusan pelatih dianggap tidak adil, frustrasi pun mudah muncul, terlebih dalam laga sebesar El Clasico.


Jude Bellingham Merasa Tak Sepenuhnya Nyaman

Bintang muda Inggris Jude Bellingham juga masuk dalam daftar pemain yang disebut meragukan pendekatan Alonso. Meski tetap tampil profesional di lapangan, Bellingham dikabarkan belum sepenuhnya klik dengan skema dan tuntutan taktik sang pelatih.

Sebagai pemain yang terbiasa diberi peran sentral dan kebebasan menyerang, Bellingham dinilai masih beradaptasi dengan struktur permainan yang lebih ketat. Ketidaknyamanan ini bukan berarti konflik terbuka, tetapi cukup untuk menimbulkan jarak dalam hubungan pemain dan pelatih.


Federico Valverde dan Posisi yang Mengganggu

Kasus paling jelas terlihat pada Federico Valverde. Gelandang asal Uruguay itu disebut merasa frustrasi ketika ditempatkan sebagai bek kanan, posisi yang dianggap tidak memaksimalkan kekuatannya.

Valverde dikenal sebagai gelandang box-to-box dengan energi besar dan kontribusi menyerang. Penempatan di posisi bertahan membuatnya merasa perannya tereduksi, memicu ketidakpuasan terhadap keputusan Alonso, meski tetap berusaha menjalankan instruksi tim.


Tidak Semua Pemain Berada di Kubu Penentang

Meski ada tiga nama besar yang dikabarkan kurang sejalan, Alonso tidak sepenuhnya kehilangan dukungan ruang ganti. Beberapa pemain justru disebut berada di pihak pelatih, termasuk Kylian Mbappé, Aurélien Tchouaméni, dan Arda Güler.

Selain itu, pemain seperti Dani Ceballos dan Raúl Asencio dilaporkan menunjukkan simpati terhadap Alonso dan mendukung proses transisi yang sedang berlangsung.


Tantangan Terbesar Alonso Bukan di Lapangan

Situasi ini menegaskan bahwa tantangan terbesar Xabi Alonso di Real Madrid bukan semata soal taktik atau hasil pertandingan, melainkan kepemimpinan dan manajemen ego pemain. Mengelola ruang ganti yang berisi bintang kelas dunia membutuhkan komunikasi yang kuat, kompromi, dan kejelasan visi.

Alonso dikenal sebagai pelatih yang detail dan disiplin. Namun, di klub sebesar Real Madrid, pendekatan tersebut harus diimbangi dengan sensitivitas terhadap status dan karakter pemain.


Ujian Nyata bagi Kepemimpinan Xabi Alonso

Ketegangan dengan Vinicius, Bellingham, dan Valverde menjadi ujian awal bagi Alonso dalam membangun otoritasnya. Jika mampu meredam konflik dan menyatukan visi tim, ia berpeluang menorehkan kesuksesan jangka panjang di Santiago Bernabéu.

Sebaliknya, jika gesekan ini dibiarkan berlarut, tekanan dari media, suporter, dan internal klub bisa semakin besar. Musim ini pun menjadi penentu: apakah Xabi Alonso mampu mengendalikan ruang ganti penuh bintang, atau justru tenggelam oleh ekspektasi tinggi yang selalu menyertai Real Madrid.

Baca Juga : Jelang Chelsea vs Arsenal: Garnacho Tak Gentar Hadapi Meriam London

Cek Juga Artikel Dari Platform : mabar

By admin